KOLAM STABILISASI ( Lin,
2007 )
|
S
|
ecara terminologi kolam stabilisasi, lagoon, dan kolam oksidasi memiliki maksud yang sama. Metode yang
memanfaatkan cekungan tanah ini dimanfaatkan sebagai cara untuk pengolahan
sekunder atau tersier. Kolam stabilisasi ini telah diaplikasikan untuk mengolah
air limbah selama lebih dari 300 tahun. Kolam banyak dipilih untuk mengolah
limbah yang berkapasitas kecil karena hanya membutuhkan biaya konstruksi dan
operasi yang rendah. Metode ini digunakan untuk mengolah air limbah dari limbah
domestik dan industri pada berbagai perubahan kondisi cuaca. Metode kolam dapat
digunakan sebagai pengolahan tunggal ataupun dikombinasikan dengan berbagai
proses pengolahan lainnya.
Kolam stabilisasi dapat diklasifikasikan menjadi kolam
fakultatif (aerob-anaerob), kolam aerasi, kolam aerobik, dan kolam anaerobik
yang didasarkan pada tipe reaksi atau aktivitas biologi yang sering terjadi di
dalam kolam. Pengelompokan lain juga dapat dilakukan berdasarkan jenis influen
(eflluen yang belum terolah, telah tersaring, telah diendapkan, atau eflluen
yang berasal dari pengolahan sekunder (seperti lumpur akif)), lama pengurasan
(tidak diemisikan, menengah, atau terus menerus), dan berdasarkan proses
pemberian oksigen (dari proses fotosintesis, dari udara dipermukaan, atau
aerasi mekanis).
1.
Kolam Fakultatif (Facultative
Ponds)
Kolam fakultatif merupakan jenis kolam stabilisasi yang
biasanya banyak digunakan. Kolam ini disebut sebagai lagoon. Kedalaman kolam fakultatif biasanya adalah 1,2-2,5 m (4-8
ft) yang memiliki lapisan aerob dan anaerob dan mengandung lumpur. Waktu
detensi pada kolam ini biasanya adalah 5-30 hari (USEPA, 1983b).
Kolam ini dapat diaplikasikan pada air buangan yang hanya
melewati proses penyaringan. Kolam ini juga dapat diaplikasikan mengikuti
proses trickling filter, kolam
aerasi, atau kolam anaerobik. Pada kolam ini kemudian terbentuk lapisan grit dan material yang berat sebagai lapisan anaerobik. Sistem ini merupakan
suatu bentuk interaksi antara bakteri heterotrof dan alga.
Pada kolam stabilisasi, bakteri yang terdapat di zona aerob
merupakan bakteri yang sama yang dapat dijumpai pada proses lumpur aktif atau
lapisan film pada media lekat di proses trickling
filter. Bakteri-bakteri tersebut meliputi Beggiatoa Alba, Sphaerotilus natans, Achromobacter, Alcaligenes,
Flavobacterium, Pseudomonas, dan Zoogloea
spp. (Lynch dan Poole, 1979). Organisme-organisme tersebut akan menguraikan
material organik pada zona aerob.
Kandungan organik dalam air limbah terurai oleh aktifitas
bakteri dan melepaskan fospor, nitrogen, dan karbondioksida. Oksigen yang dibutuhkan
pada proses aerob berasal dari udara luar dan hasil dari proses fotosistesis.
Pada proses fotosintesis alga menggunakan nutrien dan karbondioksida yang
dihasilkan bakteri sehingga menghasilkan oksigen yang akan terlarut di dalam
air. Oksigen terlarut tersebut digunakan kembali oleh bakteri. Hal ini
menunjukkan terjadinya hubungan keduanya yang terbentuk dalam sebuah siklus. Di
bagian bawah kolam, di zona anaerob dihasilkanlah gas-gas seperti metan(CH4),
karbondioksida (CO2), dan hidrogen sulfida (H2S).
Diantara zona aerob dan anaerob terdapat suatu zola lapisan yang disebut
sebagai zona fakultatif (facultative zone).
Suhu merupakan faktor utama yang mempengaruhi aktifitas simbiosis biologi
tersebut.
Beban organik (organik
loading rates) pada kolam stabilisasi dinyatakan dalam kg BOD5
per ha permukaan kolam per hari (lb BOD/acre.d),
atau terkadang dinyatakan sebagai populasi ekivalen BOD per unit luas. Nilai
tipikal loading rates adalah 22-26 kg
BOD/ha.d (20-60 lb BOD/acre.d). Waktu
detensi tipikal yang digunakan adalah 25 hingga 180 hari. Sedangkan dimensi
tipikal yang sering digunakan adalah kedalaman 1,2-2,5 m (4-8 ft) dengan luas
area 4-60 ha (10-150 acres) (USEPA, 1983b).
Kolam fakultatif biasanya dirancang untuk menurunkan nilai
BOD menjadi sekitar 30 mg/L, tetapi, dalam prakteknya, penurunan nilai BOD
berkisar dari 30 sampai 40 mg/L atau lebih tergantung dari kandungan ganggang.
Penguraian zat organik yang mudah menguap berkisar antara 77-96%. Penurunan
kadar Nitrogen mencapai 40-95%. Setelah diamati kadar phophorus berkurang
menjadi < 40%. Nilai TSS efluen berkisar 40-100 mg/L, terutama ditentukan
oleh kandungan ganggang (WEF dan ASCE, 1991b). Kehadiran ganggang di kolam
limbah merupakan salah satu faktor yang paling menentukan kinerja kolam
fakultatif. Kolam ini juga efektif dalam penurunan nilai fecal coliform (FC).
Dalam kebanyakan kasus, nilai FC efluen densitasnya kurang dari 200 FC/100 ml.
Proses Perancangan
Rumus yang digunakan untuk merencanakan kolam fakultatif
menggunakan beberapa data operasional disajikan dalam panduan manual
perancangan (USEPA, 1974b). Perhitungan dan ilustrasi dari ukuran kolam
fakultatif memuat loading rate,
persamaan Gloyna, persamaan Marais-Shaw, model aliran, dan persamaan Wehner-Wilhelm.
Kemudian untuk perancangan parsial-mix
aerated lagoon dijelaskan pada bagian
lain (WPCF, 1990). Pada bagian ini akan
dibahas mengenai metode perancangan loading
rate area dan permodelan Wehner-Wilhelm.
a.
Perancangan Loading
Rate Area
Prosedur perancangan biasanya
didasarkan pada tingkat beban organik dan waktu tinggal hidrolik. Beberapa
model empiris dan rasional untuk desain kolam fakultatif telah diusulkan.
Beberapa metode desain yang diusulkan telah dibahas pada bagian lain (USEPA, 1983b).
Loading Rate Area adalah metode
desain yang paling konservatif dan dapat disesuaikan dengan standar spesifik.
Berdasarkan suhu udara musim dingin rata-rata Loading Rate yang direkomendasikan dapat dilihat pada tabel 1 berikut
(USEPA, 1974b).
|
Tabel 1 Loading Rates BOD5 untuk Kolam Fakultatif
|
||||
|
Temperatur Udara Rata, oC
|
Kedalaman
|
BOD Loading Rate
|
||
|
m
|
ft
|
kg/(ha.d)
|
lb/(acre.d)
|
|
|
< 0
|
1,5-2,1
|
5-7
|
11-22
|
10-20
|
|
0-15 (59o F)
|
1,2-1,8
|
4-6
|
22-45
|
20-40
|
|
> 15
|
1,1
|
3,6
|
45-90
|
40-80
|
Luas permukaan yang diperlukan untuk kolam fakultatif
ditentukan dengan membagi kandungan organik (BOD) dengan loading rate BOD yang tercantum pada Tabel sesuai suhu udara dimana
kolam akan dibuat. Hali ini dapat dinyatakan sebagai persamaan berikut :
Dimana, A = Luas area yang dibutuhkan, ha atau acre
BOD = Konsentrasi
BOD pada influen, mg/L
Q = Laju alir influen, m3/d
atau Mgal/d
LR = Loading Rate BOD (dari tabel), kg/(ha.d) atau (lb/(acre/d)
1000 = Faktor
konversi, 1000 g = 1 kg
8,34 = Faktor konversi, lb/Mgal.mg/L) = 8,34 lb
Loading Rate BOD pada kolam pertama dalam serangkaian kolam tidak boleh
melebihi 100 kg / (ha . d) atau (90 lb / (acre
. d) untuk iklim hangat dan musim dingin yang suhu udara rata-ratanya lebih
besar dari 15o C (59o F); dan 40 kg / (ha . d) atau (36
lb / (acre . d) untuk suhu udara
musim dingin rata-rata kurang dari 0o C (32o F).
CONTOH 1
Debit air limbah sebuah kota kecil yang direncanakan akan diolah
dengan kolam fakultatif adalah 1100 m3/d (0,29 Mgal/d). BOD influen air
limbah tersebut diperkirakan 210 mg/L. Suhu musim dingin rata-rata di kota
tersebut adalah 10o C (50o F). Rancanglah kolam
fakultatif threecell system dengan beban organik kurang dari
80 kg/ (ha . d) atau 72 lb/(acre . d)
dalam sel primer. Kemudian perkirakan pula waktu tinggal hidrolik ketika
kedalaman lumpur rata-rata 0,5 m dan terdapat kehilangan air akibat rembesan
dan penguapan sebesar 2,0 mm air per hari.
Solusi :
Langkah
1. Hitung luas area total yang
dibutuhkan
Dari tabel 1 pilih nilai loading rate BOD
LR =
38 kg/(ha . d) ; nilai tersebut dipilih karena suhu udara berada pada
0 – 15o
C
Maka nilai A dapat dihitung,
Langkah
2. Hitung luas area yang dibutuhkan
untuk kolam pertama
Pilih
nilai loading rate BOD 80 kg/(ha .
d); nilai tersebut dipilih karena maksimal LR kolam pertama adalah 100 kg/(ha .
d)
Langkah
3. Perancangan kolam fakultatif threecell system
Berdasarkan tabel 1,
kedalaman air pada semua kolam diasumsikan 1,5 m
(a) Kolam I
Dengan memanfaatkan data A dan h, maka diperoleh dimensi
kolam I yang dinyatakan sebagai P x L x h, yaitu 288 m (945 ft) x 100 m (328
ft) x 1,5 m (5 ft)
(b)2 Kolam lainnya
Luas masing-masing 2
kolam lainnya diperoleh dari,
= (60.800 – 28.800)/2 m2
= 16.000 m2
Sedemikian sehingga
diperoleh P x L kolam adalah 144 m x 111 m sehingga, Layout kolam direncanakan sebagai berikut
Langkah
4. Perkirakan waktu detensi hidrolik
(a) Hitung volume (V) penyimpanan (kedalaman lumpur
rata-rata = 0,5 m)
(b) Hitung volume air yang
hilang (V’)
(c) Hitung waktu detensi hidrolik (HRT)
CONTOH 2
Sebuah sistem lagoon
terdiri dari dua sel yang tersusun seri. Setiap sel memiliki dimensi 110 m x
220 m (360 ft x 720 ft) dalam ukuran dengan kedalaman maksimum 1,64 m (5,4 ft)
dan kedalaman minimal 0,55 m (1,8 ft). Laju Aliran air limbah adalah 950 m3/d
(0,25 MGD) dengan BOD5 rata-rata 105 mg/L. Tentukanlah organic loading rate dan waktu detensi lagoon. (Suhu berkisar 10o C –
15o C)
Solusi :
Langkah
1. Hitung nilai loading rate BOD
Nilai loading rate yang diperoleh kemudian
dibandingkan dengan nilai loading rate
pada tabel 1. Nilai yang diperoleh tersebut diterima karena berada pada rentang
loading rate pada suhu 0o –
15o C.
Langkah
2. Hitung waktu detensi (Td)
b.
Persamaan Wehner-Wilhelm
Wehner dan Wilhelm (1958) merupakan persamaan tingkat
penyisihan substrat orde I untuk reaktor
yang memiliki pola aliran yang tidak teratur, yaitu pola plugflow dan pola complete-mix.
Persamaan yang mereka usulkan yaitu sebagai berikut.
Dimana, C = Konsentrasi substrat pada efluen, mg/L
Co = Konsentrasi
substrat pada influen, mg/L
a =
k = konstanta reaksi orde I
t = Waktu detensi, h
D = Faktor dispersi, H/uL
H = Koefisien dispersi aksial, m2/h
atau ft2/h
u = Kecepatan aliran, m/h atau ft/h
L = jarak yang ditempuh partikel, m atau ft
Persamaan Wehner-Wilhelm untuk aliran yang tidak beraturan
diusulkan oleh Thirumurthi (1969) sebagai metode perancangan kolam fakultatif.
Thirumurthi mengembangkan grafik yang dapat dilihat pada gambar 1 untuk membantu
penggunaan persamaan nantinya. Dalam gambar 1 tersebut nilai kt
dihubungkan dengan nilai persen BOD5 penyisihan (C/Co) pada
limbah untuk faktor dispersi yang bervariasi dari nol untuk reaktor plug-flow ideal hingga tak terbatas nilainya
untuk reaktor complete-mix. Faktor dispersi
untuk kolam stabilisasi berkisar dari 0,1 sampai 2,0, dengan sebagian besar nilai
tidak melebihi 1,0 disebabkan syarat pencampuran. Nilai tipikal untuk keseluruhan
tingkat penyisihan BOD5 orde I konstanta k bervariasi 0,05-1,0 per
hari, tergantung pada proses pengoperasian dan karakteristik hidrolik dari
kolam. Penggunaan persamaan untuk aliran yang tidak beraturan akan sulit, yaitu
dalam pemilihan nilai k dan D. Nilai 0,15 per hari dianjurkan untuk k20 (USEPA 1984). Pengaruh
suhu untuk menentukan nilai k dapat dijelaskan dalam persamaan berikut.
Gambar
1 Grafik hubungan kt dan persen BOD remaining
berbagai faktor dispersi dari persamaan Wehner - Wilhelm
Dimana, kT = Tingkatan reaksi pada suhu air minimum, per
hari
k20 = Tingkatan reaksi pada suhu 20o C,
per hari
T = Suhu minumum saat pengoperasian, oC
CONTOH
Rancanglah
sebuah kolam fakultatif dengan menggunakan sitem Wehner – Wilhelm dan
Thirumurthi dengan memanfaatkan data berikut ini.
Debit
perancangan Q = 1100 m3/d (0,29 Mgal/d)
TSS
Influen = 220 mg/L
BOD5
influen = 210 mg/L
BOD5
efluen = 30 mg/L
Orde
I k pada suhu 20o
C = 0,22 per hari
Faktor
dispersi kolam D = 0,5
Suhu
air pada periode kritis = 1o C
Kedalaman
kolam = 2 m (6,6 ft)
Kedalaman efektif = 1,5 m (5 ft)
Solusi :
Langkah
1. Hitung persen BOD sisa pada efluen
Langkah
2. Hitung nilai
Kt
Langkah
3. Tentukan nilai
dari Gambar 1
Pada
C/Co = 14,3 % dan D = 0,5
Kt . t = 3,1
Langkah
4. Hitung waktu detensi pada perioda tahun
kritis
t = 3,1 / (0,043 d-1)
=
72 hari
Langkah
5. Hitung volume kolam dan luas
permukaan yang dibutuhkan
volume
= Qt = 1100 m3/d x 72 days
= 79.200 m3
Area
= Volume/efective depth = 79.200 m3 / 1,5 m
= 52.800 m3
= 52.8 ha
= 13,0 acres
Langkah
6. Cek nilai loading rate BOD5
Langkah
7. Tentukan daya yang dibutuhkan untuk
surface aerator
Asumsikan jika kapasitas
aerator dalam transfer oksigen 2 kali nilai BOD per hari dan nilai kapasitas
transfer aerator adalah 22 kg O2 /(hp . d)
kebutuhan
O2 = 2 x 1100 m3/d x 210 g/m3 / 1000 g/kg
= 462 kg/d
Daya
= 462 kg/d / 22 kg/hp . d
= 21,0 hp
= 15,7 kW
Gunakan 7 unit yang berkapasitas 3 hp
Langkah
8. Cek nilai input daya untuk
menghitung tingkat pengadukan
Power
input = 15,7 kW/79,2 x 1000 m3
= 0,20 kW/1000 m3
= 0,0076 hp/1000 ft3
Catatan : pada pelaksanaannya, daya
minimum untuk pengadukan berkisar antara 28 – 54 kW/1000m3 (1,06 –
2,05 hp/1000 ft3) (Metcalf dan Eddy, 1991).
Kolam Tersier
Kolam tersier juga disebut sebagai kolam pelengkap, terakhir
atau kolam maturasi atau (pemasakan), merupakan tahap ketiga untuk mengolah
efluen yang berasal dari proses lumpur aktif atau trickling filter. Kolam ini juga digunakan pada tahap kedua setelah
proses di kolam fakultatif dan kolam aerobik.
Kedalaman air pada kolam tersier ini biasanya berkisar 1 –
1,5 m (3 – 4,5 ft). Loading Rate BODnya
kecil dari 17 kg/ha . d atau 15 lb/acres . d. Sedangkan waktu detensinya
relatif singkat, yaitu 4 hingga 15 hari.
2.
Kolam Aerob (Aerobic
Ponds)
Kolam aerobik, juga disebut sebagai kolam aerobik tinggi
tingkat. Kolam ini relatif dangkal dengan kedalaman biasanya berkisar antara 0,3
sampai 0,6 m (1 sampai 2 ft) sehingga memungkinkan cahaya untuk menembus lapisan
air hingga bagian dasar kolam. Hal ini menjaga agar DO tersebar di seluruh
bagian kolam. Hal ini meransang kinerja ganggang sehingga terjadinya kondisi
anaerobik dapat dicegah. DO pada air berasal dari proses fotosintesis yang
dilakukan oleh ganggang atau alga dan oksigen yang berasal dari permukaan kolam.
Bakteri aerobik memanfaatkan dan menstabilkan kandungan organik dalam air
limbah untuk memperoleh nutrisi. Waktu tinggal (Hidraulic Retention Time) di tambak adalah singkat, yaitu 3 sampai
5 hari.
Penggunaan kolam aerobik biasanya hanya terbatas pada daerah
yang beriklim hangat dan cerah, terutama di mana tingkat tinggi penghapusan BOD
diperlukan tapi ketersediaan lahan tidak terbatas. Namun, tingkat penurunan
nilai kandungan koliform melalui pengolahan air limbah dengan kolam aerob ini
adalah rendah.
3.
Kolam Anaerob (Anaerobic
Ponds)
Kolam anaerobik biasanya relatif lebih dalam dan digunakan
untuk mengolah limbah yang memiliki beban organik tinggi. Pada kolam anaerobik
tidak terdapat adanya zona aerob. Kedalaman kolam anaerobik biasanya berkisar
2,5-5 m (8-16 ft). Waktu detensi berkisar antara 20 sampai 50 hari (USEPA
1983b).
Bakteri anaerob menguraikan bahan organik menjadi karbon
dioksida dan metana. Prinsip dari reaksi biologi adalah pembentukan asam dan
fermentasi metana. Proses ini mirip dengan yang terjadi pada proses kondisi anaerobik pada pengolahan
lumpur. Pada proses ini juga dihasilkan penyebab bau seperti asam-asam organik
dan hidrogen Sulfida (H2S).
Kolam anaerobik biasanya digunakan untuk mengolah limbah
pekat industri dan pertanian. Kolam ini telah digunakan sebagai pretreatment
kolam fakultatif atau kolam aerobik untuk air limbah pekat industri dan limbah
area domestik di daerah pedesaan yang memiliki beban organik yang tinggi,
seperti sisa-sisa makanan. Namun kolam ini tidak terlalu banyak digunakan pada pengolahan
air limbah kota.
Keuntungan dari kolam anaerobik dibandingkan dengan proses
pengolahan aerobik adalah produksi lumpur yang rendah dan tidak memerlukan
peralatan aerasi. Namun, kelemahannya adalah proses ini menghasilkan senyawa yang
menyebabkan timbulnya bau. Oleh karena itu untuk menstabilisasi limbah dibutuhkan
proses pengolahan lanjutan berupa proses aerobik. Pada proses dekomposisi
senyawa organik, suhu yang terjadi pada kondisi anaerob ini relatif lebih
tinggi.
Pada proses pengoperasian pada kondisi normal, untuk mencapai
efisiensi penyisihan BOD minimal 75 persen, diperlukan loading rates sebesar 0,32 kg BOD/(m3 . d) atau 20 lb/(1000 ft3 . d),
waktu detensi minimal 4 hari, dan suhu operasi minimum 24o C (75o
F) (Hammer, 1986).[MN]
SUMBER : Lin, Shun Dar, and Lee, C. C. 2007
. Handbook of Environmental Engineering
Calculation, 2nd Edition . New York : McGraw-Hill .